Thursday, June 04, 2009

Kemenangan Seorang Hamba

Ciri kemenangan seorang hamba,
Jika bertambah ilmunya, bertambah pula kerendahan hatinya.
Jika bertambah amal shalihnya, bertambah pula rasa takut dan kehati-hatiannya.
Jika bertambah hartanya, bertambah pula kedermawanannya.


Jika bertambah tinggi kedudukannya, bertambah pula kedekatannya dengan manusia.
Semakin bertambah usianya, berkurang pula ambisi-ambisi keduniawiannya
(Ibnul Qayyim Al-Jauziyah)

Read More……

Wednesday, January 28, 2009

Kearifan Emas


Seorang pemuda mendatangi Zen-sei dan bertanya, "Guru,saya tak mengerti mengapa orang seperti Anda mesti berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana. Bukankah
di masa seperti ini berpakaian sebaik-baiknya amat perlu, bukan hanya untuk penampilan melainkan juga untuk banyak tujuan lain?"

Sang Guru hanya tersenyum. Ia lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya dan berkata, "Sobat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih dahulu lakukanlah
satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana . Bisakah kamu menjualnya seharga satu keping emas?"

Melihat cincin Zen-sei yang kotor, pemuda tadi merasa ragu, "Satu keping emas? Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu." "Cobalah dulu, sobat muda. Siapa tahu kamu berhasil."

Pemuda itu pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya. Ternyata, tak seorang pun berani membeli seharga satu keping emas. Mereka menawarnya hanya satu keping perak.

Tentu saja, pemuda itu tak berani menjualnya dengan harga satu keping perak. Ia kembali ke padepokan Zen-sei dan melapor, "Guru, tak seorang pun berani
menawar lebih dari satu keping perak."

Zen-sei, sambil tetap tersenyum arif, berkata,"Sekarang pergilah kamu ke toko emas di belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana. Jangan buka harga, dengarkan saja bagaimana ia memberikan penilaian."

Pemuda itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali kepada Zen-sei dengan raut wajah yang lain dan berkata, "Guru, ternyata para pedagang di pasar tidak
tahu nilai cincin ini sesungguhnya. Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas. Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada
yang ditawar oleh para pedagang di pasar."

Zen-sei tersenyum simpul sambil berujar lirih, "Itulah jawaban atas pertanyaanmu tadi sobat muda. Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiannya. Hanya "para pedagang
sayur, ikan dan daging di pasar" yang menilai demikian. Namun tidak bagi "pedagang emas".

"Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat ke kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk melihatnya, dan itu membutuhkan proses. Kita tak bisa menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan lihat sekilas. Seringkali yang disangka emas ternyata loyang dan yang kita lihat sebagai loyang ternyata emas "

Semoga sekelumit cerita di atas dapat menambah kedalaman jiwa kita dalam memandang makna hidup dan kehidupan ini.


Read More……

Monday, December 29, 2008

Hikmah Bersyukur

Nabi Musa alaihi salam, memiliki ummat yang jumlahnya sangat banyak dan umur mereka panjang-panjang. Mereka ada yang kaya dan juga ada yang miskin. Suatu hari ada seorang yang miskin datang menghadap Nabi Musa alaihi salaam. Ia begitu miskinnya, pakaiannya compang-camping dan sangat lusuh berdebu. Si miskin itu kemudian berkata kepada Baginda Musa alaihi salaam, "Ya Nabiullah, Kalamullah, tolong sampaikan kepada Allah SWT permohonanku ini agar Allah SWT menjadikan aku orang yang kaya."

Nabi Musa alaihi salaam tersenyum dan berkata kepada orang itu, "Saudaraku, banyak-banyaklah kamu bersyukur kepada Allah SWT." Si miskin itu agak terkejut dan kesal, lalu ia berkata, Bagaimana aku mau banyak bersyukur, aku makan pun jarang, dan pakaian yang aku gunakan pun hanya satu lembar ini saja"!. Akhirnya si miskin itu pulang tanpa mendapatkan apa yang diinginkannya.


Beberapa waktu kemudian seorang kaya datang menghadap Nabi Musa alaihi salaam. Orang tersebut bersih badannya juga rapi pakaiannya. Ia berkata kepada Nabi Musa alaihi salaam, "Wahai Nabiullah, tolong sampaikan kepada Allah SWT permohonanku ini agar dijadikannya aku ini seorang yang miskin, terkadang aku merasa terganggu dengan hartaku itu.

Nabi Musa alaihi salaam pun tersenyum, lalu ia berkata, "Wahai saudaraku, janganlah kamu bersyukur kepada Allah SWT.” “Ya Nabiullah, bagaimana aku tidak bersyukur kepada Alah SWT?. Allah SWT telah memberiku mata yang dengannya aku dapat melihat. Telinga yang dengannya aku dapat mendengar. Allah SWT telah memberiku tangan yang dengannya aku dapat bekerja dan telah memberiku kaki yang dengannya aku dapat berjalan, bagaimana mungkin aku tidak mensyukurinya," jawab si kaya itu. Akhirnya si kaya itu pun pulang ke rumahnya.

Kemudian yang terjadi adalah si kaya itu semakin Allah SWT tambah kekayaannya karena ia selalu bersyukur. Dan si miskin menjadi bertambah miskin. Allah SWT mengambil semua kenikmatan-Nya sehingga si miskin itu tidak memiliki selembar pakaian pun yang melekat di tubuhnya. Ini semua karena ia tidak mau bersyukur kepada Allah SWT.

Source : Kisah Teladan created by Heksa @ http://fajar.ibrahim.tripod.com

Salah satu hikmah yang dapat kita ambil dari kisah teladan ini adalah sesempit maupun selapang apapun keadaan kita, jangan pernah lalai untuk selalu bersyukur atas semua karunia yang telah Allah berikan dan ”titipkan” pada kita. Pandai bersyukur termasuk akhlak yang mulia. Semoga dengan senantiasa bersyukur kepada Allah swt, Allah semakin mencintai kita dan melindungi perjalanan hidup kita dengan kasih sayangNya yang tiada putus-putusnya hingga ajal menjelang dengan khusnul khotimah. Amin ya rabbal alamin :) Btw, Happy Islam New Year 1st Muharram 1430 H (December 29th 2k8)

Read More……

Friday, December 26, 2008

Tsunami in Nanggroe Aceh Darussalam, 4 years ago

Tsunami tragedy in Aceh on December 26, 2004.




Before and After Satellite Images of Tsunami 2004



Read More……

Altruism in Islam

Altruism in Islam
(The perfect altruism of the earliest Muslim society, a unique example for later generations)


Source: By Ben Adam (IslamReligion.com) - Published on 13 Nov 2006 - Last modified on 11 Dec 2006

Altruism, selfless acts done for another’s benefit in spite of oneself, is a humanitarian endeavor praised by all societies. Practically every nation on earth has stories of great kings, brave warriors and noble men and women who sacrificed their material possessions, status or even themselves for some or other common good.

Yet, it is without any reservation or hesitation whatsoever that we can point to the religion of Islam for the most perfect, sincere and comprehensive expression of altruism (eethaar in Islamic terminology). The Prophet Muhammad, may God praise him, said in a narration, known to perhaps every devout Muslim:

"None of you truly believes until he loves for his brother what he loves for himself." (Saheeh Al-Bukhari)


And with that, altruism instantly becomes a condition of true faith in God, Most High. This act of faith was demonstrated so many times throughout the history of Islam, from Muhammad’s commission as a prophet up until our present times, that to recall even a fraction of the authentic narrations that have reached us would barely touch the surface. However, for the purpose of this discussion, we will do just that.

During the great battle of Yarmuk between the fledgling Islamic state and the Roman Empire, a Companion of the Prophet, Ikrimah b. Abu Jahl, and two other noble warriors were mortally wounded. An able Muslim who was attending to the wounded offered one of the injured warriors some water, but the selfless soldier refused, insisting that one of the other fallen men be offered water first. When the water reached the second man, he too refused to drink before the thirst of the other wounded soldiers was quenched. Alas!, by the time the water had reached the third man, it was already too late: he and the other two soldiers had died. Truly these three paragons of self-sacrifice made manifest the words of their Prophet when he said:

"The best charity is that given when one is in need and struggling." (Ibn Katheer)


"…And they give others preference over themselves even though they were themselves in need…." (Quran 59:9)


The above verse was actually revealed in connection to what was, perhaps, the single greatest act of communal altruism ever witnessed in the history of mankind: the establishment of brotherhood between the Muslim emigrants fleeing persecution in Mecca (the Muhajiroon), and their helpers who took them in Medina (the Ansaar).

The Ansaar made previously untold sacrifices for their brothers in faith, despite the fact that they were themselves in great need. By their deeds, the bonds of brotherhood in the new Medinan society were strengthened and solidified in a manner not seen before or since. Arab was matched with non-Arab, freeman with former slave, Qurayshi (a member of Prophet’s own tribe) with non-Qurayshi, and so on.

"By no means shall you attain righteousness unless you spend of that which you love…." (Quran 3:92)


As an amazing example of how this brotherhood manifested itself, we have the case of the two Companions of the Prophet: Abdur-Rahman b. Awf, who was a Muhajir, and Sa’d b. al-Rabee, an Ansari. Abdur-Rahman narrates in his own words:

"When we came to Medina, the Messenger of God established bonds of brotherhood between me and Sa’d b. al-Rabee. Sa’d said: 'I am the wealthiest of the Ansar, so I will give you half of all my wealth. And see which of my wives you prefer, I will divorce her for you, and when she becomes lawful (as a divorcee), you can marry her.'

I (Abdur-Rahman) said to him: 'I do not need that. (But tell me), is there a marketplace here where people trade?' Sa‘ad said: 'There is the marketplace of Qaynuqa'… And so, the following day Abdur-Rahman went to the market to begin trading. Before long, he was once again wealthy, as he had been in Mecca, and able to marry of his own accord." (Saheeh Al-Bukhari)

"And those who, before them, had homes (in Madina) and had adopted the Faith, love those who emigrate to them, and have no jealousy in their breasts for that which they have been given (from booty and the like), and they give (the emigrants) preference over themselves, even though they were themselves in need. And whomsoever are saved from the covetousness of their own souls, such are they who will be successful." (Quran 59:9)


The altruism of the Medinan Muslims, praised by God in the Quran, was so great in its scope and impact that the Meccan recipients of their brothers’ selflessness were worried there would be no grace left for them! The Companion, Anas b. Malik, said:

"When the Prophet, may God praise him, came to Madina, the Muhajiroon came to him and said: 'O Messenger of God, we have never seen any people more generous when they have the means and more helpful when they have little, than the people among whom we have settled. They have looked after us and they have let us join them and share in all their happy occasions, to such an extent that we are afraid that they will take all the reward (from God in the Hereafter).’ The Prophet said: 'Not so long as you pray for them and praise them.’" (Al-Tirmidhi)

God Himself praised the Companions of Muhammad, both Muhajir and Ansar, for their great many selfless sacrifices and services in His Cause. He, the Almighty, also praised whoever would follow in their footsteps. Let us then follow them, perchance we may too be rewarded in heaven.

"The foremost (in faith) from the Muhajiroon and the Ansar and those who follow them in righteousness; God is well-pleased with them and they are well-pleased with Him. He has prepared for them (the Companions and their followers in righteousness) gardens under which rivers flow to dwell therein forever - that is the supreme success." (Quran 9:100)

Read More……

Thursday, December 25, 2008

Tiga Bagian Manusia

Luqman Al Hakim alaihis salam pernah berkata pada anaknya,

Wahai anakku! Sesungguhnya manusia itu terdiri dari tiga bagian; sepertiga untuk Allah, sepertiga untuk dirinya dan sepertiga untuk cacing.
Bagian pertama, yang kembali kepada Allah adalah ruhnya. Kedua, yang kembali kepada dirinya dan menjadi miliknya adalah amalnya. Dan ketiga, yang menjadi bagian cacing adalah tubuhnya.


Mari jadikan sisa usia kita penuh berkah dan manfaat dengan berlomba-lomba dan bersinergi dalam kebaikan, kebajikan dan taqwa (fastabikhul khoirat). Ingatlah untuk berbagi dengan sesama, ketika lapang maupun sesempit apapun rezeki kita.

Mari menjaga keikhlasan kita dalam beramal, melatih ketawadhuan kita dalam bermuamalah, membenahi akhlak kita setiap waktu, saling mendoakan dalam kebaikan dan mengobarkan semangat istiqomah dalam niat yang hanif di jalan Allah swt :)

Kata-kata bijak dalam bahasa Bugis mengatakan Sipakainga’, sipakatau, dan sipakalebbi' (saling mengingatkan, saling menasihati dalam kebaikan, dan saling memuliakan) :)

Semoga Allah ridho menuliskan akhir hayat kita dengan khusnul khotimah (akhir yang baik). Amin ya rabbal alamin :)

Sincerely,
Read More……

Bila Dikaruniai Sahabat yang Baik, Peliharalah. (part 2)

Persahabatan bukan hanya kebutuhan yang bisa memenuhi sisi kemanusiaan kita selaku makhluk sosial, tapi juga mempunyai kedudukan mulia dalam Islam. Rasulullah saw bersabda
Barang siapa yang dikehendaki Allah swt kebaikan, maka Allah akan rizkikan kepadanya seorang sahabat yang shalih yang mana bila ia lupa akan diingatkannya dan bila ia ingat akan dibantunya.


Bilal bin Sa’ad Al Asyari mengatakan "Saudaramu yang jika menemuimu kemudian mengingatkanmu tentang sikapmu kepada Allah, itu lebih baik daripada saudaramu yang jika bertemu denganmu lalu ia memberikan uang di telapak tanganmu."


Karena itu, orang-orang shalih memang mencari dan memperbanyak sahabat yang baik. Di antara mereka ada yang mengatakan, "istaktsiru minal ikhwan fa inna likulli mu’minin syafaatun fala’allaka tadkhulu fi syafaati akhiika."
Perbanyaklah saudara, karena setiap mukmin itu mempunyai syafaat, semoga engkau termasuk dalam syafaat saudaramu.

Dalam kitab Ghariibu Tafsir disebutkan firman Allah swt surat An Nisa ayat 173, "Fa ammal ladziina aamanuu wa ‘amilu shaliihati fa yuwaffihim ujuurahum wa yaziiduhum min fadhlih." Maknanya adalah, orang-orang beriman kelak akan memberi syafaat kepada saudara-saudara mereka sehingga saudara-saudara itu masuk ke dalam surga bersama mereka.
Karena itulah para salafushalih memang sangat menganjurkan persahabatan, kedekatan, persaudaraan, perbauran, dan tidak menyukai kesendirian dan sikap mengisolir diri.

Tujuan persahabatan itu ada yang sifatnya dunia atau agama. Semuanya bisa saja dilakukan selama masih berada dalam jalan Allah swt. Dari segi agama, kita bisa saja memiliki tujuan persahabatan misalnya untuk mendapatkan lebih banyak ilmu, lebih mendorong semangat melakukan amal shalih, lebih memelihara kesalihan, untuk memelihara diri dari gangguan yang mengotori hati, membantu mengelola waktu untuk tidak terjebak dalam rutinitas mencari penghidupan, juga dalam sikap saling memberi bantuan saat menghadapi ragam kesulitan dan musibah, bahkan bisa juga tabarruk atau mencari doa dari sahabat yang shalih dan lainnya. Dan karena itu jugalah, sebuah jalinan persahabatan dan persaudaraan harus dirancang sejak awal agar tidak menyimpang dan sampai pada inti tujuannya.

Dari kesepakatan ini, proses persahabatan bisa terjalin dengan baik. Nasihat menasihati akan dijalani dengan saling lapang dada. Kekeliruan yang mungkin terjadi tidak melukai satu sama lain dan bisa diselesaikan dengan baik.

Source : Tarbawi edisi 172 Th 9 Muharram 1429 H
Read More……

Monday, December 22, 2008

Happy Mother's Day, Mom! :)

Today December 22nd, we're in Indonesia celebrating Mother's Day. In this opportunity, as a daughter, I would love to say a deep and sincere thank you for my lovely mom and also wanna greet "Happy Mother's Day" to all mothers in Indonesia and worldwide.



Mama, thank you so much for your unconditional love, your affection, your sincere care, and everything for me and our family. Please forgive me for all sins and faults that I've done before to you. May Allah swt always love, bless and protect you.

Sincerely,
your lovely daughter, Rashita ^-^
Read More……

Bila Dikaruniai Sahabat yang Baik, Peliharalah. (part 1)

Tulisan ini adalah kumpulan artikel dalam Majalah Tarbawi edisi 172 Th 9 Muharram 1429 H yang mengangkat tema “Bila Dikaruniai Sahabat yang Baik, Peliharalah”.

Artikel-artikel ini, shita kutip sebagian- sebagian dan kumpulkan menjadi satu. Teriring doa yang tulus,
"semoga penulis-penulis artikel ini selalu Allah naungi dengan kebaikan. Dan semoga rangkaian kata yang mereka goreskan bernilai pahala jariah ilmu yang bermanfaat yang nilai kebaikannya tiada putus-putusnya. Amin.
Shita juga berharap, semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua yang menyempatkan waktu membacanya. Semoga hidup kita diwarnai dengan indahnya cinta dan tulusnya persahabatan. Amin ya rabbal alamin." :)


Btw, foto yang shita insert di postingan ini adalah foto beberapa murid shita di Al-biruni dulu, yang pd saat itu duduk di grade 5.
I miss u, dear students, hope we can meet and silaturahim again, directly in person, someday :-)



~Bila Dikaruniai Sahabat yang Baik, Peliharalah ~

Sahabat yang baik adalah karunia. Meski untuk mendapatkannya harus kita cari. Sahabat yang baik adalah aset. Tetapi ia bisa menjadi aset yang beku bila kita tak bisa mengelolanya dengan baik. Kata kuncinya ada pada bagaimana kita berinteraksi. Sebab bersahabat pada dasarnya adalah soal interaksi.

Persahabatan yang baik sangat tergantung dari bagaimana interaksi itu dijalankan. Tetapi pertanyaan tentang bagaimana mencari sahabat yang baik lalu memeliharanya, sama juga dengan pertanyaan bagaimana diri kita sendiri akan menjadi. Akan menjadi sahabat seperti apakah diri kita bagi orang lain. Sebab persahabatan adalah urusan timbal balik.

Maka berbicara tentang sahabat yang baik adalah berbicara tentang bagaimana bila kita dikaruniai, bagaimana kita mencari, bagaimana kita memelihara dan bagaimana kita menjadi.

Orang-orang yang bertakwa adalah sahabat yang baik. Selama ini mungkin kita tidak terlalu menyadari, orang-orang itu sebenarnya ada di sekitar kita. Mereka mungkin keluarga kita, guru kita, tetangga kita atau teman kerja kita. Mungkin juga orang yang secara usia atau pun posisi atau pun jabatan lebih rendah dari diri kita. Mungkin saja jumlah mereka tidak banyak, tapi satu orang sahabat yang bertakwa, lebih baik dari segalanya.

Meskipun ketakwaan itu ada di dalam hati, tapi setidaknya bisa kita rasakan tanda-tandanya secara lahiriyah. Karenanya, bila kita memiliki orang-orang yang bertakwa itu, jangan disia-siakan. Bersahabatlah dengan mereka. Dekatlah. Lalu peliharalah persahabatan itu.

Di zaman yang susah seperti ini, dimana keburukan dan kejahatan berserakan, memang tidak mudah mendapatkan sahabat yang baik. Tapi kita yakin masih ada kebaikan pada diri sebagian orang. Kita hanya perlu rajin mengamati dan mencermati. Karunia sahabat yang baik itu mungkin ada di sekitar kita, hanya saja kita tidak pernah menyadarinya. Bahkan mungkin kita mencemoohnya.

Bagi sesama orang beriman, fungsi persahabatan adalah sebagai penolong, penopang perjalanan kita menuju Allah. Untuk mencintai Allah lebih dari segalanya, kita perlu sahabat, kita perlu teman.


Maka di seputar inilah fungsi persahabatan itu harus berjalan. Sahabat sejati adalah yang mau menolong kita, membela kita, di jalan yang benar. Begitu juga sebaliknya untuk kita, bila kita ingin menjadi sahabat sejati, maka kita juga harus siap untuk menjadi penolong, pendukung, bagi orang-orang yang berjuang untuk menegakkan Islam, untuk menggapai cinta Allah.


Sebuah pertolongan yang dilakukan seorang mukmin untuk mukmin yang lain bahkan efeknya sangat panjang dan jauh, sampai akhirat kelak. Rasulullah bersabda,

”Barangsiapa meringankan beban kesusahan seorang mukmin dari beban kesusahan di dunia, maka Allah akan meringankan beban kesusahan di hari kiamat. Dan barang siapa memudahkan orang yang kesusahan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barangsiapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allah akan menutupinya di akhirat. Dan Allah selalu menolong hamba-Nya selama hamba itu selalu menolong saudaranya.” (HR. Muslim).


Read More……

Friday, December 19, 2008

Change The World Through The Words


Alangkah besarnya makna dan pengaruh sebuah tulisan dan rangkaian kata-kata. Berikut ini, shita kutipkan rangkaian kata inspiratif dari sebuah buku yang –menurut penilaian shita pribadi- sangat bagus karya Mohammad Fauzil Adhim, Inspiring Words for Writers. I hope it can inspire you also and motivate you to write. Then someday, you can change the world through your words, Insya Allah :)

Wise Words Make the World Wide ~ Kata-kata bijak membuat dunia terasa begitu luas.

Bukan kecerdasan yang membuat seorang penulis menjadi besar.
Kehausan pada ilmulah yang membuat setiap goresan pena menjadi penuh makna.

Para penulis menghiasi kebenaran yang dibawanya dengan kata-kata yang indah,
Para pengarang menghiasi kata-kata indah dengan kebenaran
Keduanya mirip, tetapi jauh sekali perbedaannya

Banyak orang sibuk menganeh-anehkan diri agar disebut sastrawan dan seniman.
Padahal para sastrawan besar berteman dengan kesedihan agar bisa menuturkan kebenaran dengan sederhana.


Kata itu bagaikan pedang
Lincahnya menggunakan karena biasa,
Runcingnya ujung karena terasah
Tajamnya ayunan di setiap sisi karena ilmu dan hidupnya jiwa.

Menulis bukanlah bermain kata-kata.
Susunan kalimat yang indah bisa sangat membosankan kalau tidak memiliki makna yang kuat

Tulisan yang baik ibarat tanaman melati. Bunganya menjernihkan mata, baunya menyedapkan jiwa, dan setiap tangkainya mudah ditanam dimana saja.
Tulisan yang buruk ibarat makanan. Saat dikunyah mengasyikkan, sesudah keluar menjijikkan.
Tulisan yang baik menyederhanakan persoalan rumit bukan memperumit apa yang sebenarnya sangat sederhana dan remeh.

Tulisan yang baik membuat orang berpikir sesudah membacanya.
Tulisan yang buruk membuat orang kelelahan hanya untuk memahami kalimat yang sedang dibaca.

Buku yang baik sekali dibaca mencerdaskan, dibaca berikutnya mencerahkan.
Buku yang buruk dibaca sekali menyenangkan, sesudah itu sangat membosankan.

Karya-karya legendaris menyimpan makna dalam untaian kalimat sederhana
Karya-karya sederhana menyembunyikan makna dalam kata-kata yang susah dikunyah.

Kata-kata yang tersusun rapi dapat menyihir manusia. Ia menggerakkan yang diam dan meredakan yang bergejolak. Karena kata-kata, sebuah bangsa dapat bertikai dengan bangsa-bangsa lain. Dan karena kata-kata pula, pedang yang terhunus bisa masuk kembali ke sarungnya tanpa ada sedikit pun darah yang menetes. Justru sebaliknya, ia meneteskan airmata haru yang menghangatkan persahabatan dan persaudaraan.

Setiap saat, ada banyak pilihan bagi kita, sebagaimana setiap saat tersedia peluang untuk menangkap dan mengikuti inspirasi-inspirasi yang buruk dan menyesatkan atau inspirasi-inspirasi yang baik, benar dan menggerakkan. Fa alhamaha fujuurahu wa taqwaha.

Ujung pena kita pun demikian. Terserah, ke arah mana akan kita gerakkan. Kalau kita gerakkan tanpa arah yang pasti, maka ia lebih dekat dengan keburukan daripada kebenaran. Tetapi kalau kita berusaha dengan sungguh-sungguh agar setiap tetes tinta kita menjadi pembuka pintu-pintu hidayah, maka insya Allah betapa pun lemahnya kemampuan kita menulis saat ini, kelak pada waktunya akan ada karya yang benar-benar mampu mengubah dunia melalui kata.


Tak ada banyak waktu untuk bercanda. Sekarang, gerakkanlah penamu dan ubahlah dunia melalui kata! :)


Read More……